Cerita Halwany

J Agustus, 2008

Drs. H. Halwany Michrob, M.Sc., Ph.D

 

Mansyur Syah dan seorang wartawan kebudayaan bapak O’ Galelano yang juga merupakan sahabat ayahku sedang membicarakan rencana pementasan drama Masyitoh di KIAA (Konfrensi Islam Asia Afrika) Bandung dengan Toto Sudarto Bachtiar, ketika itu ayahku Halwany Michrob sebagai Ketua HSBI cab. Banten, dan ikut mendaftar untuk mementaskan drama Pucuk Umun dalam bahasa Arab di Gedung Kesenian dalam rangka Pekan Drama KIAA 1964 itu. Tak terbayangkan oleh seksi Kebudayaan KIAA yang diketuai oleh Mayor Yunan Helmy Nasution. Beliau bilang bakal repot mejalankannya, tapi Halwany dan kawan-kawannya ‘ngotot’ dan mereka siap untuk mementaskannya. Malam itu di gedung Kesenian Jakarta disaksikan oleh utusan KIAA, Pagelaran Drama Pucuk Umun karya Halwany dipentaskan dalam bahasa Arab. Dan hasilnya tepuk tangan membahana dan sabutan yang meriah dari penonton.

Halwany, anak Kubang Serang yang lahir 14 Februari 1938. ia memang menguasai bahasa Arab dan bahasa Inggris dengan baik sekali. Menyelesaikan Madrasah di Serang, kemudian singgah sebentar di Gontor Ponorogo dan juga sekelas dengan Nurcholish Madjid. Pernah menjadi pegawai P dan K di Pandeglang. Dan juga pintar mengaji. Dalam pertemuan seperti konfrensi atau muktamar Halwany selalu kebagian baca doa atau mengaji. Halwany memang seorang santri. Banyak yang terheran-heran apalagi sahabat dekatnya ketika masih dipesntren, karena ia terjun kedunia arkeologi yang berselimut tebal dengan kekunoan dan kepurbaan. Beliau menyelam di laut Irian Barat (1971) untuk mencari jejak purba diprovinsi terluas itu. semua cerita itu dari rekan, sahabat dan kakak-kakakku.

Beliau mengorek-ngorek tanah di situs Banten, memburu pecahan keramik dan beling, temuan-temuan artefak yang digeluti bukan lagi sebuah pekerjaan baginya tetapi telah menjadi dunianya. Sedangkan telaah sejarah adalah kawan karib yang selalu mengikutinya. Luar biasa memang bila dibandingkan dengan latar belakang Halwany yang mulanya seorang santri yang hidupnya selalu dilanggar dan masjid sejak kecil.

Setiap temuan itu memberikan sebuah gambaran betapa jayanya masa Banten tempo dulu, dalam buku karyanya seperti Exsport dan Import di Banten, Halwany mengungapkan ramainya niaga di zaman kesultanan Banten. Pokoknya Halwanylah putra Banten yang selama hayatnya menjadikan Banten sebagai sumber semangat hidup dan daya nalar intelektualitasnya beliau telah menghasilkan 70 karya ilmiah sejarah dan arkeologi tentang Banten yang telah dan yang belum dibukukan. Berapa karyanya antara lain; Ekspor-Impor Banten, Pengembangan Industri Keramik di Banten, Mengenal Peninggalan Sejarah dan Purbakala Banten, persepektif Budaya dan Bahasa Nusantara, Studi Banding Dalam konteks Kesamaan Akar Budaya Austronesia, Lebak Sibeduk dan Arca Domas di Banten Selatan, Kabupaten Serang Menyongsong Masa Depan (bersama Hasan M. Ambary), Pahlawan Nasional Sultan Ageng Tirtayasa dan Manfaatnya Terhadap pembangunan Banten, 30 Tahun Korem 064 Maulana Yusuf. Karya lainnya; Dokumen Historica Pohon Keluarga Besar pangeran Astapati, Temuan Perahu Kuno Tradisi Jawa Barat, Catatan Masa Lalu Banten, Katalogus Koleksi Data Arkeologi Banten (bersama Hasan M. Ambary dan John Miksich), Lompatan Waktu Mendahului Masa Keemasan Arkeologi di Indonesia, Situs Tirtayasa dan Situs Pagedongan, Sejarah Perkembangan Arsitektur Kota Islam Banten. Juga berpuluh judul makalah terbesar dalam sejumlah seminar dan simposium, antara lain; Bandar Banten, Penduduk dan Golongan Masyarakatnya, Kajian Historis dan Arkeologis serta Prospek Masyarakat Banten Masa Depan (bersama Hasan M. Ambary).

Ayahku dikenal juga seorang humoris, posisi intelektualnya dibidang sejarah dan arkeologi serta budaya dengan latar belakang santri menjadikannya dipandang tidak biasa oleh semua orang yang mengenalnya, beliau tidak mendirikan pesantren tapi malah mendirikan museum di carita yang kini hilang ditelan kondominium Lippo. Setiap langkah dan pekerjaanya beliau tidak asal-asalan ini terbukti berhasil dalam menyelesaikan S-1, S-2 sampai S-3, dan juga study banding dalam bidang Sejarah ke Filipina, Tailand, Belanda dan bayak lagi. Dirumah beliau membuat alat pembakaran (tungku) keramik untuk membuat rekontruksi pecahan keramik yang ditemukan pada setiap penggalian disekitar Banten Lama.

Beliau pernah bilang kepada O’ Galelano sahabat wartawannya, ketika itu Bupati Serang menanyakan kepadanya apa kira-kira ciri khas yang harus dipatrikan di Kota Serang sebagai bayangan Banten. Halwany bilang buat ketentuan saja seluruh kantor memasng gapura keraton Kaibon. Hingga kini bila anda ke Kota Serang terlihat gapura-gapura dengan gaya mirip ka-Cirebonan itu terpatri disepanjang pintu gerbang kantor atau instansi pemerintah dan lembaga masyarakat ataupun pintu masuk di tempat-tempat umum. Halwany tidak pernah lelah dan jera untuk memajukan Banten, beliau berobsesi bahwa Banten akan bangkit ini terlihat dalam simposium yang beliau tampilkan seperti Kedudukan Banten Dalam Peranan Bandar Banten Dalam Perdagangan Internasional terlihat sekali beliau menginginkan konsorsium yang mampu membangun Banten dengan segala fasilitas wisata budaya.

Sudah lebih tiga minggu beliau sakit dan telah menjalani operasi di Serang. Pada saat beliau tiga hari berada di RS Kangker Dharmais Jakarta, saya menghubungi beliau via telepon dan mengatakan telah menyelesaikan sidang dengan nilai A, lalu beliau mengucapkan alhamdulilah dan berkata “sudah selesai pendidikan anak terakhirku dan selesai juga tanggung jawabku”. Beliau mengatakan itu disamping ibuku yang senantiasa menjaganya sambil memegang erat tangannya lalu mencium dahinya dan membisikan “ pah makan yang banyak supaya kuat agar dapat berkumpul kembali dengan anak-anak”. Tubuh yang tergolek dengan infus, wajah diperban sehingga terlihat jelas kelelahan dan kesedihan yang menyitanya. Beliau mencintai Banten sama seperti mencintai istri dan anak-anaknya, mencintai masa lalu dan mendambakan masa lalu itu lahir kembali dan menjadikan sesuatu yang berarti.

Ia juga mencintai HSBI organisasi yang digelutinya sejak remaja, rumah berkali-kali dijadikannya studi kecil untuk syuting sinetron karya Muchtar Sum dan Dedy Mizwar dan juga sebagai tempat menimba ilmu karena di sana ada perpustakaan yang terbuka untuk umum.

Sekitar pukul 21.00 wib tanggal 4 Juli 1997 hari Kamis malam Jumat beliau wafat, inna lilahi wa inna ilaihi rojiun seorang Halwany Michrob telah berpulang kerahmatullah, Banten telah kehilangan lagi seorang arkeolog, budayawan, santriwan, pahlawan dan seorang Ayah yang patut dibanggakan.

Selamat jalan Suami………., Ayah………, Kakek………, tercinta semoga amal dan perbuatanmu diterima di sisi Allah SWT. Amin…… ya robal allamin.

Alamat Rumah/Perpustakaan Halwany:
Jalan Abdul Fatah Hasan Gg. Madrasah No.01 Ciceri Jaya RT.01/07, Belakang IAIN Sunan Gunung Jati, Kab. Serang Propinsi Banten Kode Pos 42118, Telepon (0254) 201 560

 

 

Hello world!

J April, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!